Langsung ke konten utama

Apa yang Menyebabkan Spidol Bisa Permanen?

soniofficemate.com

"Ayo siapa yang mau melanjutkan mengerjakan nomer 3 di papan tulis? Silakan nomer 1 boleh dihapus." 
"Baik, Bu."
"Hayoooo spidol permanennn hahahah ngga bisa dihapuuss..."

Panik. Pelajaran jadi molor gara-gara waktu dipake buat menghapus spidol permanen dengan spidol nonpermanen. Abis itu spidol nonpermanen jadi macet, warnanya tipis, ngga bisa dilihat dari barisan siswa di belakang. Hadeuh. Apa sih yang bikin spidol bisa permanen sampai jam pelajaran jadi berkurang, walaupun beberapa siswa merasa senang?

Secara fisik, tampilan spidol tampak sama baik permanen maupun nonpermanen. Tentu yang membuatnya berbeda adalah bahan kimia di dalam tinta spidol tersebut. Ada empat bahan penting dalam pembuatan tinta, yaitu air, pelarut, aditif, dan pengawet. Dalam tinta spidol permanen sendiri ada 3 bahan penting yaitu pewarna (colorant), pelarut (solvent), dan resin. Mari kita pelajari satu per satu ya tidak perlu berbarengan, ngga usah sok-sokan multitasking gitu :)

Yang pertama adalah pewarna. Apa fungsinya pewarna? Ya biar ada warnanya. Ada dua macam pewarna di sini, yaitu dye dan pigment. Bedanya apa Pink? Perbedaan paling mencolok adalah kelarutannya. Dye akan larut dalam air, sedangkan pigment secara umum tidak larut dalam air. Untuk perbedaan lain yang lebih lengkap bisa dibaca di sini. Pigment akan lebih cocok digunakan sebagai pewarna dalam spidol permanen karena lebih tahan terhadap pelarutan oleh kelembapan maupun faktor lingkungan lain. 

Berikutnya adalah pelarut (solvent). Pelarut nih perannya penting banget, spidol harus berterima kasih sama doi. Pelarut yang digunakan dalam spidol permanen harus nonpolar untuk melarutkan pewarna dan resin, karena pewarna dan resin tadi bersifat nonpolar. Spidol permanen menggunakan toluena dan xilena sebagai pelarut yang membuat spidol meninggalkan bekas yang tahan lama. Di samping itu spidol nonpermanen menggunakan alkohol sebagai pelarut, seperti 1-propanol, 1-butanol, alkohol diacetone dan cresol. Penggunaan alkohol sebagai pelarut ini mulai populer sekitar tahun 1990-an karena spidol udah mulai dipakai sama anak-anak di sekolah dan ngga terlalu berbahaya dibandingkan pelarut yang nonpolar tadi. Setelah tinta cair diaplikasikan ke kertas, pelarut secara otomatis menguap ke udara sehingga menyisakan pewarna dan resin.

Yang terakhir adalah resin. Polimer seperti lem, resin tinta memastikan bahwa pewarna tinta "menempel" ke kertas sesaat setelah pelarut menguap. Kalau tinta isinya cuma pewarna dan pelarut, pewarna bakal berubah menjadi debu dan jatuh dari kertas segera setelah pelarut mengering atau menguap. Sementara resin tinta melekat secara alami, pelarut tinta membuatnya dapat mengalir di dalam tabung plastik spidol yang tertutup. 

"Eh, jadi gimana? Apa perbedaan spidol permanen dengan spidol nonpermanen?"
Perbedaan terbesar antara spidol permanen dan nonpermanen terletak pada resin tinta. Pada spidol permanen, resin cenderung sangat nonpolar (tidak larut dalam air sama sekali). Jadi, jika tinta dengan resin nonpolar ini mengenai pakaian, mesin cuci ngga bisa menghilangkan tinta tersebut. Sebaliknya, spidol nonpermanen menggunakan resin tinta yang mudah larut dalam air. Selain itu, spidol permanen dapat menggunakan pigmen dan pewarna tertentu yang tidak larut dalam air.

Spidol nonpermanen bisa jadi permanen pada permukaan berpori, seperti kertas. Permukaan yang licin seperti kaca dan papan tulis menyebabkan spidol lebih mudah "terhapus". Kebanyakan spidol permanen menggunakan polimer akrilik sedangkan spidol nonpermanen menggunakan polimer silikon berminyak. Toluena dan xilena tidak digunakan sebagai pelarut dalam spidol nonpermanen karena sifatnya yang beracun dan berbahaya, seperti yang aku bilang tadi. Tetapi, spidol permanen masih menggunakan bahan kimia untuk membuat tinta yang ngga bisa dihapus. Spidol nonpermanen sekarang menggunakan bahan kimia yang lebih aman untuk pelarut seperti siklik alkilena karbonat. 

Begitu teman-teman. Maaf ya kalau kalian masih bingung arah perbincangan ini ke mana. Semoga menambah wawasan kalian tentang spidol ya. Kalau untuk solusi ngilangin tinta spidol di pakaian, hmmmm aku kurang tahu nih. Kalau ada yang tau boleh komen ya! Terima kasih.


Referensi :
Chemical and Physical Properties of Markers
What Is Contained in a Permanent Marker?
Difference Between Dyes and Pigments

Komentar

  1. Wiih Pelanggaran,, Keren Paran.. Lanjutkan, ditunggu postingan selanjutnya Xixi

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Little Beautiful City : Antusias Membangun Teknologi disertai Kecemasan Bumi

            Populasi manusia yang semakin meluap membuat kebutuhan hunian juga meningkat. Selain itu, sampah yang dihasilkan pun semakin menggunung. Tidak semua orang menyadari bahwa pengelolaan lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang bersahabat dengan alam. Teman-teman ingat tidak, kapan pertama kali kalian sadar bahwa membuang sampah di sungai adalah hal yang buruk?           Christian Darren Kusnadi, seorang penulis asal Tangerang berhasil menuliskan buku berjudul Our  Little  Beautiful City. Terinspirasi dari buku berjudul Silent Spring karya Rachel Carson, Darren mencoba menceritakan isu lingkungan dengan kisah yang mudah dipahami. “Target pembacanya memang untuk anak-anak dan remaja, harapannya cerita ini cukup memberi rangsangan kalangan muda bahwa masalah lingkungan itu nyata”,   ungkap Darren. Sesuai dengan target pembaca, tokoh dalam cerita ini merupakan sekumpu...

Bias Efek Mozart

Musik klasik memiliki makna luas yang biasanya mengarah pada musik tradisional barat, seperti orkestra dan opera [1] . Pernahkah teman-teman mendengar pernyataan bahwa musik klasik membuat kita menjadi lebih pintar? Yap, fenomena tersebut dinamakan “efek Mozart”. Hingga saat ini, masih banyak di antara kita yang memercayai bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan seseorang. Bahkan aku sendiri sebagai penikmat musik klasik juga memercayainya, sampai suatu saat sebuah tweet mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Ngomong-ngomong, kenapa harus Mozart? Bukannya ada banyak komponis musik klasik yang populer juga, misalnya Beethoven, Bach, atau Chopin? Bisakah disebut “efek Beethoven”?   Wolfgang Amadeus Mozart