Langsung ke konten utama

Our Little Beautiful City : Antusias Membangun Teknologi disertai Kecemasan Bumi

 

        Populasi manusia yang semakin meluap membuat kebutuhan hunian juga meningkat. Selain itu, sampah yang dihasilkan pun semakin menggunung. Tidak semua orang menyadari bahwa pengelolaan lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang bersahabat dengan alam. Teman-teman ingat tidak, kapan pertama kali kalian sadar bahwa membuang sampah di sungai adalah hal yang buruk?

        Christian Darren Kusnadi, seorang penulis asal Tangerang berhasil menuliskan buku berjudul Our Little Beautiful City. Terinspirasi dari buku berjudul Silent Spring karya Rachel Carson, Darren mencoba menceritakan isu lingkungan dengan kisah yang mudah dipahami. “Target pembacanya memang untuk anak-anak dan remaja, harapannya cerita ini cukup memberi rangsangan kalangan muda bahwa masalah lingkungan itu nyata”,  ungkap Darren. Sesuai dengan target pembaca, tokoh dalam cerita ini merupakan sekumpulan pemuda yang saling mengungkapkan pemikiran mereka tentang lingkungan dan kemajuan teknologi. Hal ini membuat pembaca betah menikmati suasana dan emosi yang dibangun.

        Gusset, seorang laki-laki yang memiliki impian besar untuk membuat hunian yang sangat nyaman bagi manusia bersahabat dengan Traumalin, laki-laki yang khawatir tentang masa depan bumi. Traumalin mencoba mengajak sahabatnya untuk mulai memikirkan dampak pembangunan terhadap keberlangsungan lahan hijau. Keduanya berkeliling kota Beryl dan bertemu banyak orang, mengamati kemewahan hotel yang ada di kota tempat tinggal mereka itu. Banyak hal tak terduga yang mereka temukan yang membuka pandangan mereka terhadap kota Beryl. Traumalin dan Gusset cukup berani dalam menjelajah petualangan ini meski ada beberapa fakta pahit yang harus diterima.

        Dengan penggunaan nama tokoh dan tempat yang unik, Darren berhasil membuat karya ini berkesan bagi pembaca. Cerita yang sederhana dan semangat para tokoh mampu menghipnotis kita untuk tetap penasaran dengan akhir dari pandangan para pemuda yang beragam. 

        Untuk pembaca yang menyukai cerita yang kompleks, mungkin buku ini kurang menggugah antusias. Beberapa paragraf memuat penjelasan yang terlalu melebar dan tidak terkait langsung dengan inti cerita. Meski begitu, akhir dari cerita ini tetap membuat saya tertegun setelah turut merasakan banyak situasi sengit yang dilewati para tokoh.  

        Darren mengatakan bahwa penulisan karya yang menyangkut tentang lingkungan ini memberikan pengalaman yang berkesan untuknya. Apakah akan ada serial lanjutan dari kisah Our Little Beautiful City?

 

 

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Menyebabkan Spidol Bisa Permanen?

soniofficemate.com "Ayo siapa yang mau melanjutkan mengerjakan nomer 3 di papan tulis? Silakan nomer 1 boleh dihapus."  "Baik, Bu." "Hayoooo spidol permanennn hahahah ngga bisa dihapuuss..." Panik. Pelajaran jadi molor gara-gara waktu dipake buat menghapus spidol permanen dengan spidol nonpermanen. Abis itu spidol nonpermanen jadi macet, warnanya tipis, ngga bisa dilihat dari barisan siswa di belakang. Hadeuh. Apa sih yang bikin spidol bisa permanen sampai jam pelajaran jadi berkurang, walaupun beberapa siswa merasa senang? Secara fisik, tampilan spidol tampak sama baik permanen maupun nonpermanen. Tentu yang membuatnya berbeda adalah bahan kimia di dalam tinta spidol tersebut. Ada empat bahan penting dalam pembuatan tinta, yaitu air, pelarut, aditif, dan pengawet. Dalam tinta spidol permanen sendiri ada 3 bahan penting yaitu pewarna ( colorant ), pelarut ( solvent ), dan resin. Mari kita pelajari satu per satu ya tidak perlu berbarengan,...

Bias Efek Mozart

Musik klasik memiliki makna luas yang biasanya mengarah pada musik tradisional barat, seperti orkestra dan opera [1] . Pernahkah teman-teman mendengar pernyataan bahwa musik klasik membuat kita menjadi lebih pintar? Yap, fenomena tersebut dinamakan “efek Mozart”. Hingga saat ini, masih banyak di antara kita yang memercayai bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan seseorang. Bahkan aku sendiri sebagai penikmat musik klasik juga memercayainya, sampai suatu saat sebuah tweet mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Ngomong-ngomong, kenapa harus Mozart? Bukannya ada banyak komponis musik klasik yang populer juga, misalnya Beethoven, Bach, atau Chopin? Bisakah disebut “efek Beethoven”?   Wolfgang Amadeus Mozart