Musik klasik memiliki makna luas yang biasanya mengarah pada musik tradisional barat, seperti orkestra dan opera [1]. Pernahkah teman-teman mendengar pernyataan bahwa musik klasik membuat kita menjadi lebih pintar? Yap, fenomena tersebut dinamakan “efek Mozart”. Hingga saat ini, masih banyak di antara kita yang memercayai bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan seseorang. Bahkan aku sendiri sebagai penikmat musik klasik juga memercayainya, sampai suatu saat sebuah tweet mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Ngomong-ngomong, kenapa harus Mozart? Bukannya ada banyak komponis musik klasik yang populer juga, misalnya Beethoven, Bach, atau Chopin? Bisakah disebut “efek Beethoven”?
Nature menerbitkan sebuah artikel ilmiah yang ditulis oleh tiga peneliti, yaitu Frances H. Rauscher, Gordon L. Shaw, dan Catherine N. Ky pada tahun 1993 berjudul Music and Spatial Task Performance. Mereka memberikan satu dari tiga tes strandar penalaran abstrak kepada 36 mahasiswa dan mengklaim bahwa terjadi peningkatan sementara kinerja otak (tidak lebih dari 15 menit), lebih tepatnya untuk penalaran spasial, seperti melipat kertas dan memecahkan labirin, yang diukur dengan sub tugas penalaran spasial dari tes IQ Stanford-Binet setelah mendengarkan Sonata for Two Pianos in D Major (K448) gubahan Mozart. Oleh karena itu, fenomena ini disebut “efek Mozart”. Mungkin istilah ini bisa disebut “efek Beethoven” kalau mereka menggunakan karya Beethoven dalam eksperimen [2].
Hasil penelitian Rauscher dkk. terlalu dibesar-besarkan oleh media sehingga secara populer ditafsirkan sebagai peningkatan IQ secara umum dan membenarkan pernyataan “musik Mozart (dan musik klasik lain) membuat Anda menjadi lebih pintar”. Istilah "efek Mozart" dicetuskan oleh Alfred A. Tomatis dalam bukunya tahun 1991 berjudul “Pourquoi Mozart?” di mana ia menggunakan musik Mozart dalam usahanya untuk melatih kembali pendengarannya dan percaya bahwa mendengarkan musik yang disajikan pada frekuensi yang berbeda dapat membantu pendengaran serta dan mendorong penyembuhan dan perkembangan otak [2].
Lalu, apakah benar mendengarkan musik klasik membuat kita menjadi lebih cerdas?
Sayangnya pernyataan ini kurang tepat. Peningkatan kinerja otak kita tidak dipengaruhi oleh efek Mozart, melainkan oleh kegairahan emosional (enjoyment arousal). Jakob Pietschnig mengungkapkan bahwa sekelompok orang yang mendengarkan musik Mozart maupun musik lain memang memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok lain yang tidak mendengarkan apa-apa atau hanya diam. Orang akan tampil lebih baik jika mendapatkan stimulus. Dalam hal ini, musik berperan sebagai stimulus. Mungkin akan lebih tepat jika disebut sebagai “efek musik” secara umum, ya? [3][4]. Satu lagi, perlu diingat bahwa mendengarkan musik tidak menyebabkan peningkatan IQ secara menyeluruh, bahkan dalam jangka waktu yang lama.
Efek Mozart sebagai Terapi Pengobatan Epilepsi dan Parkinson
Grylls dan kawan-kawan melakukan penelitian efek Mozart pada anak-anak penderita epilepsi electroencephalograms (EEG). Telah ditemukan bahwa Sonata K448 secara signifikan mengurangi aktivitas epilepsi pada EEG pada anak-anak, di mana sebagian besar anak-anak mengalami peningkatan tonus parasimpatis, diukur dengan variabilitas denyut jantung. Studi ini telah mengkonfirmasi bahwa musik Mozart K448 menurunkan aktivitas epilepsi pada EEG pada anak-anak [5].
Profesor Jenkins mengungkapkan bahwa Sonata K448 yang dimainkan kepada peserta sebagian besar menunjukkan penurunan aktivitas epileptiform mereka (pola di otak yang menghasilkan serangan epilepsy). Analisis terhadap karya-karya oleh berbagai komponis menunjukkan bahwa musik Mozart dan Bach memiliki faktor yang sama, yaitu memiliki tingkat 'periodisitas jangka panjang' yang tinggi [6][7].
Menurut pendapat Victorino dan kawan-kawan, musik mungkin membantu pasien parkinson untuk memulihkan gangguan yang mereka rasakan, seperti kemampuan untuk bergerak lebih cepat, suasana hati, serta kebahagiaan dan kesejahteraan mereka. Berkaca dari penelitian sebelumnya di mana tiga kelompok secara acak ditugaskan untuk mendengarkan musik milik Mozart, Strauss, atau band pop ABBA. Secara singkat, mereka menemukan bahwa tekanan darah dan detak jantung subjek yang mendengarkan Mozart atau Strauss berkurang, sedangkan subjek yang mendengarkan ABBA tidak memiliki perubahan dalam parameter tersebut. Menariknya, Symphony No. 40 in G minor (K. 550) milik Mozart memiliki efek yang paling kuat [8].
Banyak sarjana di komunitas psikologis saat ini menganggap klaim bahwa bermain musik klasik untuk anak-anak dapat meningkatkan kecerdasan mereka merupakan sebuah "mitos”. Seorang psikolog Universitas Emory, Scott Lilienfeld, menempatkan Mozart Effect pada urutan keenam dalam bukunya yang berjudul 50 Great Myths of Popular Psychology . Meskipun demikian, untuk teman-teman penikmat musik klasik tidak perlu khawatir ya kalau mendengarkan musik klasik tidak terlalu berpengaruh pada kecerdasan. Anggap saja itu sebagai apresiasi kita terhadap karya-karya klasik yang memang menakjubkan.
Referensi



Komentar
Posting Komentar