Langsung ke konten utama

Benarkah Ikan Bisa Tuli Akibat Pemanasan Global?

Duh, ternyata bener ya pemanasan global itu nyata. Cuaca panas banget, nih, rasanya pengen berenang di laut aja sama ikan-ikan biar adem. Tapi, ikan-ikan di laut tahu nggak ya kalau bumi mengalami peningkatan suhu?


Pemanasan global di bumi menyebabkan tingginya kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer. Seperti yang kita tahu, permukaan bumi kita ini sebagian besar terdiri dari lautan. CO2 di atmosfer yang sangat banyak akan terserap oleh lautan yang menyebabkan air laut menjadi bersifat lebih asam. Kabar buruknya, keasaman ini bisa menyebabkan ikan mengalami penurunan pendengaran.


Hah? Ikan bisa mendengar?


Fly-Fishing-Art oleh Tyler Hackett


Yap. Nggak hanya manusia aja yang bisa menghayati berbagai genre musik, ikan pun bisa menikmati suara-suara di dalam laut sana. Ikan memiliki organ yang disebut otolith sebagai komponen penting dari sistem sensorik pendengaran. Suara di bawah laut merupakan objek penting bagi ikan. Ikan menggunakan pendengarannya untuk mengetahui lokasi dan keberadaan lingkungan sekitarnya, bahkan untuk memilih pasangan. Wah, unik sekali, ya?


Namun sayangnya, tingginya kadar CO2 yang terserap ke dalam perairan menyebabkan otolith pada ikan menjadi berubah. Penelitian yang dilakukan oleh Radford dkk. tentang dampak keasaman perairan terhadap kemampuan mendengar ikan menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan CO2 pada ikan, semakin besar pula penurunan pendengarannya terhadap suara. Pada konsentrasi CO2 yang sangat tinggi, ikan kurang sensitif dengan keberadaan suara, bahkan dengan frekuensi yang sangat rendah sekalipun. Fenomena ini terjadi karena CO2 dapat menyebabkan pembengkakan pada otolith. Selain itu, otolith pada ikan juga dapat mengalami fluktuasi asimetri, di mana organ mengalami penyimpangan perkembangan pada sisi kiri dan  kanan akibat faktor lingkungan.


Penurunan pendengaran pada ikan akan berdampak pada menurunnya populasi ikan. Ikan-ikan kecil akan lebih mudah ditemukan oleh predator karena sulit mendeteksi keberadaan mereka dari suara. Atau dalam kasus yang lebih buruk, ikan yang mengalami kerusakan otolith akan kesulitan mencari pasangan dan tidak dapat berkembang biak. Wah, kasihan sekali, ya?


Dari penelitian tersebut, kita bisa tahu bahwa perubahan iklim global tidak hanya dirasakan oleh manusia dan binatang-binatang yang hidup di darat, namun juga ikan-ikan di laut yang tak kalah sulit menghadapi tantangan kehidupan, yaitu potensi kehilangan pendengaran karena meningkatnya keasaman laut akibat tingginya kadar CO2. Oleh karena itu, kita harus menjaga bumi kita sekaligus menjaga makluk-makhluk yang hidup di dalamnya. 


Referensi:

Ocean Acidification Effects on Fish Hearing

Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak pada Ikan Laut? Petunjuknya Ada di Dalam Telinga Mereka

Is Global Warming Making Fish Deaf?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Little Beautiful City : Antusias Membangun Teknologi disertai Kecemasan Bumi

            Populasi manusia yang semakin meluap membuat kebutuhan hunian juga meningkat. Selain itu, sampah yang dihasilkan pun semakin menggunung. Tidak semua orang menyadari bahwa pengelolaan lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang bersahabat dengan alam. Teman-teman ingat tidak, kapan pertama kali kalian sadar bahwa membuang sampah di sungai adalah hal yang buruk?           Christian Darren Kusnadi, seorang penulis asal Tangerang berhasil menuliskan buku berjudul Our  Little  Beautiful City. Terinspirasi dari buku berjudul Silent Spring karya Rachel Carson, Darren mencoba menceritakan isu lingkungan dengan kisah yang mudah dipahami. “Target pembacanya memang untuk anak-anak dan remaja, harapannya cerita ini cukup memberi rangsangan kalangan muda bahwa masalah lingkungan itu nyata”,   ungkap Darren. Sesuai dengan target pembaca, tokoh dalam cerita ini merupakan sekumpu...

Apa yang Menyebabkan Spidol Bisa Permanen?

soniofficemate.com "Ayo siapa yang mau melanjutkan mengerjakan nomer 3 di papan tulis? Silakan nomer 1 boleh dihapus."  "Baik, Bu." "Hayoooo spidol permanennn hahahah ngga bisa dihapuuss..." Panik. Pelajaran jadi molor gara-gara waktu dipake buat menghapus spidol permanen dengan spidol nonpermanen. Abis itu spidol nonpermanen jadi macet, warnanya tipis, ngga bisa dilihat dari barisan siswa di belakang. Hadeuh. Apa sih yang bikin spidol bisa permanen sampai jam pelajaran jadi berkurang, walaupun beberapa siswa merasa senang? Secara fisik, tampilan spidol tampak sama baik permanen maupun nonpermanen. Tentu yang membuatnya berbeda adalah bahan kimia di dalam tinta spidol tersebut. Ada empat bahan penting dalam pembuatan tinta, yaitu air, pelarut, aditif, dan pengawet. Dalam tinta spidol permanen sendiri ada 3 bahan penting yaitu pewarna ( colorant ), pelarut ( solvent ), dan resin. Mari kita pelajari satu per satu ya tidak perlu berbarengan,...

Bias Efek Mozart

Musik klasik memiliki makna luas yang biasanya mengarah pada musik tradisional barat, seperti orkestra dan opera [1] . Pernahkah teman-teman mendengar pernyataan bahwa musik klasik membuat kita menjadi lebih pintar? Yap, fenomena tersebut dinamakan “efek Mozart”. Hingga saat ini, masih banyak di antara kita yang memercayai bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan seseorang. Bahkan aku sendiri sebagai penikmat musik klasik juga memercayainya, sampai suatu saat sebuah tweet mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Ngomong-ngomong, kenapa harus Mozart? Bukannya ada banyak komponis musik klasik yang populer juga, misalnya Beethoven, Bach, atau Chopin? Bisakah disebut “efek Beethoven”?   Wolfgang Amadeus Mozart