Langsung ke konten utama

Absorpsi dan Adsorpsi

Seringkali dalam belajar, terutama sains, kita menemukan dua proses yang namanya hanya berbeda satu huruf. Yap, contohnya absorpsi dan adsorpsi. Bahkan, sampai aku menginjak perguruan tinggi masih bingung nih, apa sih bedanya absorpsi dan adsorpsi, bukannya sama-sama penyerapan? Nah, hari ini aku akan coba uraikan apa perbedaan dari kedua fenomena tersebut. 

Menurut Wikipedia, definisi absorpsi berdasarkan IUPAC adalah proses suatu material yang diretensi (ditahan atau dimuat) oleh bahan lain [2]. Dengan kata lain, fluida akan menempati volume secara menyeluruh, tidak hanya di permukaan saja. Dalam proses absorpsi, zat yang terserap tidak bercampur secara kimia. Salah satu contoh absorpsi adalah saat air terserap ke dalam spons. Air tidak terikat secara kimiawi dengan spons, melainkan hanya mengisi ruang di dalamnya. Terdapat dua macam absorpsi yaitu absorpsi secara fisika (physical absorption) dan absorpsi secara kimia (chemical absorption). Physical absorption merupakan proses non-reaktif, misalnya saat oksigen di udara larut dalam air. Prosesnya bergantung pada sifat fisik, seperti suhu dan tekanan. Chemical absorption terjadi saat atom atau molekul terserap dalam absorben. Contoh chemical absorption yaitu ketika hidrogen sulfida dikeluarkan dari aliran biogas dan diubah menjadi belerang padat [4,6] (penjelasan lebih lanjut mengenai penelitian tersebut klik di sini). 

 

Adsorption vs Absorption

Berbeda dengan absorpsi, fenomena adsorpsi didefinisikan sebagai proses penggumpalan zat terlarut dalam suatu larutan oleh permukaan material penyerapnya dan terjadi ikatan pada kedua zat tersebut. Dapat dikatakan bahwa proses adsorbsi terjadi hanya di permukaan antarfasa [3]. Adsorpsi dapat dijelaskan lebih luas berdasarkan kekuatan interaksi antara adsorben (media tempat suatu zat menempel) dan molekul yang teradsorbsi. Adsorpsi mungkin terbatas pada pembentukan lapisan molekul tunggal pada permukaan atom yang kemudian disebut adsorpsi unimolekuler. Di samping itu, adsorpsi multimolekul merupakan adsorpsi yang melibatkan pembentukan beberapa lapisan molekul pada permukaan [1]. Misalnya, permukaan selembar kaca akan dilapisi dengan atom silikon dan oksigen. Molekul atau ion dapat berinteraksi dengan permukaan ini melalui interaksi antarmolekul. Semakin luas permukaan suatu bahan, maka semakin banyak molekul yang dapat menempel pada permukaan tersebut [5].

Sama halnya dengan absorpsi, terdapat dua macam adsorpsi yaitu physical adsorption (physisorption) dan chemical adsorption (chemisorption). Adsorpsi fisika (physisorption) juga disebut adsorpsi Van der Waals, yang merupakan daya tarik alami antarpermukaan atom, partikel, atau ion.  Atom atau molekul yang mengalami adsorpsi fisik tidak terikat secara kimiawi namun menempati area tertentu dan memungkinkan atom bergerak dalam area tersebut. Proses adsorpsi kimia (chemisorption) melibatkan interaksi kimia yang memungkinkan atom-atom tersebut membentuk suatu ikatan kimia sehingga memerlukan energi [1,4]. Hal-hal yang memengaruhi proses adsorpsi antara lain pH, suhu, konsentrasi zat, dan luas permukaan. 

Selain absorbsi dan adsorpsi, terdapat proses yang disebut desorpsi. Kalau absorpsi merupakan penyerapan, maka desorpsi memiliki makna sebaliknya. Desorpsi merupakan proses pelepasan suatu zat dari zat lain, baik dari permukaan maupun melalui permukaan. Proses ini bisa terjadi saat keadaan kesetimbangan diubah [4]. 

Cukup sekian uraian mengenai absorpsi dan adsorpsi dari aku. Semoga teman-teman paham, ya! Untuk penjelasan lebih lanjut, teman-teman bisa kunjungi beberapa link di bawah ini. Terima kasih. 


Referensi 

[1] A General Overview on the Adsorption

[2] Absorpsi 

[3] Adsorpsi

[4] Adsorption, Absorption and Desorption - What's the Difference?

[5] Adsorption vs Absorption

[6] Adsorption vs. Absorption : The Difference for Carbon Filters

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Little Beautiful City : Antusias Membangun Teknologi disertai Kecemasan Bumi

            Populasi manusia yang semakin meluap membuat kebutuhan hunian juga meningkat. Selain itu, sampah yang dihasilkan pun semakin menggunung. Tidak semua orang menyadari bahwa pengelolaan lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang bersahabat dengan alam. Teman-teman ingat tidak, kapan pertama kali kalian sadar bahwa membuang sampah di sungai adalah hal yang buruk?           Christian Darren Kusnadi, seorang penulis asal Tangerang berhasil menuliskan buku berjudul Our  Little  Beautiful City. Terinspirasi dari buku berjudul Silent Spring karya Rachel Carson, Darren mencoba menceritakan isu lingkungan dengan kisah yang mudah dipahami. “Target pembacanya memang untuk anak-anak dan remaja, harapannya cerita ini cukup memberi rangsangan kalangan muda bahwa masalah lingkungan itu nyata”,   ungkap Darren. Sesuai dengan target pembaca, tokoh dalam cerita ini merupakan sekumpu...

Apa yang Menyebabkan Spidol Bisa Permanen?

soniofficemate.com "Ayo siapa yang mau melanjutkan mengerjakan nomer 3 di papan tulis? Silakan nomer 1 boleh dihapus."  "Baik, Bu." "Hayoooo spidol permanennn hahahah ngga bisa dihapuuss..." Panik. Pelajaran jadi molor gara-gara waktu dipake buat menghapus spidol permanen dengan spidol nonpermanen. Abis itu spidol nonpermanen jadi macet, warnanya tipis, ngga bisa dilihat dari barisan siswa di belakang. Hadeuh. Apa sih yang bikin spidol bisa permanen sampai jam pelajaran jadi berkurang, walaupun beberapa siswa merasa senang? Secara fisik, tampilan spidol tampak sama baik permanen maupun nonpermanen. Tentu yang membuatnya berbeda adalah bahan kimia di dalam tinta spidol tersebut. Ada empat bahan penting dalam pembuatan tinta, yaitu air, pelarut, aditif, dan pengawet. Dalam tinta spidol permanen sendiri ada 3 bahan penting yaitu pewarna ( colorant ), pelarut ( solvent ), dan resin. Mari kita pelajari satu per satu ya tidak perlu berbarengan,...

Bias Efek Mozart

Musik klasik memiliki makna luas yang biasanya mengarah pada musik tradisional barat, seperti orkestra dan opera [1] . Pernahkah teman-teman mendengar pernyataan bahwa musik klasik membuat kita menjadi lebih pintar? Yap, fenomena tersebut dinamakan “efek Mozart”. Hingga saat ini, masih banyak di antara kita yang memercayai bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan seseorang. Bahkan aku sendiri sebagai penikmat musik klasik juga memercayainya, sampai suatu saat sebuah tweet mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Ngomong-ngomong, kenapa harus Mozart? Bukannya ada banyak komponis musik klasik yang populer juga, misalnya Beethoven, Bach, atau Chopin? Bisakah disebut “efek Beethoven”?   Wolfgang Amadeus Mozart