Tahukah
teman-teman, kematian Ratu Elizabeth I salah satunya disebabkan karena
keracunan kosmetik? Ya, kosmetik yang digunakan untuk merias wajah agar
terlihat menawan ternyata mengandung bahan-bahan yang beracun bagi tubuh, salah
satunya merkuri.
Apa
itu merkuri?
Merkuri,
yang disebut juga raksa atau hydrargyrum
(Hg) merupakan unsur logam transisi dengan nomor atom 80 yang berwujud cair
pada suhu kamar, berwarna keperakan, mudah menguap, dan sangat beracun.
Kelimpahan merkuri di bumi menempati urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada
kerak bumi. Penggunaan merkuri di antaranya sebagai bahan amalgam
gigi, termometer, barometer,
dan peralatan ilmiah lain, walaupun penggunaannya untuk bahan pengisi
termometer telah digantikan (oleh termometer alkohol,
digital,
atau termistor)
dengan alasan kesehatan dan keamanan karena sifat toksik
yang dimilikinya[5]. Merkuri bisa masuk ke tubuh
manusia
melalui kulit, luka terbuka, atau dengan
menghirup atau menelannya yang kemudian dapat menyebabkan kerusakan pada saraf,
hati dan ginjal, serta sejumlah bagian tubuh lainnya[3].
Bagaimana
cara mengetahui produk yang mengandung merkuri?
Menurut
FDA, kita dapat mengetahui produk kosmetik mengandung merkuri dengan membaca
label produk. Jika ditemukan kata mercurous
chloride, calomel, mercuric, mercurio, atau mercury
pada label, maka produk tersebut mengandung merkuri dan mungkin kita bisa
menghindari pemakaiannya. Jika bahan-bahannya tidak tercantum
pada label atau bahkan tidak terdapat label produk, jangan menganggapnya
baik-baik saja. Undang-undang
federal mewajibkan bahan-bahan dicantumkan pada label obat kosmetik atau nonprescription, jadi jangan gunakan
produk yang tidak memiliki label. Selain itu, hindari penggunaan obat-obatan atau kosmetik
berlabel dalam bahasa selain bahasa Inggris kecuali jika label bahasa Inggris
juga tersedia. Itu
juga pertanda bahwa produk tersebut mungkin dipasarkan secara ilegal[4]. Di
Amerika Serikat, FDA telah melarang penggunaan merkuri dalam kosmetik lebih
dari 1 ppm (0,0001%) sebagai pengotor yang tidak dapat dihindari pada kondisi
praktik manufaktur yang baik. Sedangkan di Indonesia, menurut Peraturan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014,
kandungan merkuri sebagai cemaran logam berat dalam kosmetik adalah tidak lebih
dari 1 mg/kg atau 1 mg/L (1 bpj)[2].
Apa
saja bahaya yang ditimbulkan?
Banyak
produk kosmetik yang digunakan langsung ke kulit manusia. Meskipun kulit
berfungsi sebagai penghalang atau pelindung dari lingkungan luar, namun
beberapa bahan dalam produk kosmetik, salah satunya merkuri, dapat menembus
kulit dan mencapai organ-organ vital melalui sirkulasi sistemik. Hal ini
menunjukkan efek toksisitas baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Paparan merkuri terhadap kulit dapat menyebabkan iritasi, dermatitis, dan
reaksi alergi[2]. Iritasi yang sering muncul pada kulit yaitu
gatal-gatal, kulit kemerahan, dan ruam pada kulit. Hal yang perlu kita pahami
adalah penggunaan kosmetik yang mengandung merkuri tidak akan membuat kulit
putih merona, melainkan putih pucat dan malah akan membuat masalah baru pada
wajah, yaitu munculnya flek hitam[1].
Ginjal
secara umum dianggap sebagai organ target sensitif untuk toksisitas merkuri
yaitu nefrotoksik dan neurotoksik. Efek nefrotoksik dapat terjadi akibat
aplikasi topikal garam anorganik merkuri. Produk kosmetik yang mengandung
merkuri akan menyebabkan terakumulasinya merkuri di tubulus ginjal. Sebuah
penelitian menunjukkan hubungan antara paparan merkuri dan terjadinya nekrosis
tubular akut, penyakit ginjal kronis, kanker ginjal dan sindrom nefritik[2].
Merkuri
memiliki kecenderungan untuk mengubah patofisiologi sepanjang sumbu
hipotalamus-hipofsis-adrenal dan axis
gonadal yang dapat mengganggu fungsi reproduksi dengan sirkulasi kadar
hormon perangsang folikel (FSH), inhibin, estrogen, progesterone, luteinizing
hormone (LH), dan androgen. Pada laki-laki, merkuri dapat memberi efek pada
spermatogenesis, jumlah sperma epididimis dan berat testis[2].
Pada
sistem saraf, efek yang paling mengganggu dari merkuri yaitu intervensi pada
produksi energi karena merusak proses detoksifkasi seluler dan menyebabkan sel
mati atau hidup dalam keadaan kekurangan gizi kronis. Tanda neuropsikiatrik
merupakan tanda paling umum dari keracunan merkuri anorganik seperti sakit kepala,
kelemahan, pusing, khawatir atau cemas, depresi, kelelahan dan iritabilitas.
Selain itu, nyeri punggung, sendi, dan anggota tubuh juga gejala yang paling
sering ditemui[2].
Bagaimana
penanganan pada paparan merkuri?
Cara
terbaik untuk menghentikan paparan merkuri tentu dengan menghentikan penggunaan
produk yang mengandung merkuri. Cuci tangan dan bagian tubuh lainnya yang
bersentuhan dengan produk yang mengandung merkuri. Hubungi ahli perawatan
kesehatan, klinik perawatan medis, atau Pusat Kendali Racun (Poison Control Center) untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jika kadar merkuri telah mencapai titik tertentu, dokter
akan melakukan terapi kelasi (chelation therapy). Agen chelating
adalah obat yang berfungsi untuk menghilangkan logam dari organ
manusia dan membantu tubuh untuk membuangnya. Dalam jangka panjang, penderita
mungkin memerlukan pengobatan berkelanjutan untuk mengelola efek keracunan
merkuri, seperti efek neurologis[6].
Sebelum membuang produk yang mungkin mengandung merkuri, tutupi dalam kantong
plastik atau wadah anti bocor. Konsultasikan kepada badan lingkungan,
kesehatan, atau limbah padat setempat mengenai petunjuk pembuangan[4].
Referensi :

Komentar
Posting Komentar