Langsung ke konten utama

Sabun, Hand Sanitizer, dan Virus

Selama pandemi, anjuran yang tak henti-hentinya disuarakan adalah tentang mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.  Memang betul menggunakan hand sanitizer lebih mudah dan cepat. Tapi, apakah keefektifannya setara dengan sabun dalam menghilangkan virus? Eh, tunggu sebentar. Apa kalian tau virus itu makhluk seperti apa? Mengapa kita menggunakan sabun untuk menghilangkan virus? Mari simak penjelasan berikut ini, go! 


Secara singkat, virus adalah nanopartikel yang merakit sendiri tubuhnya di mana bagian terlemahnya adalah lapisan ganda lipid (lemak). Sabun melarutkan selaput lemak sehingga virus menjadi hancur atau tidak aktif. Kebanyakan virus terdiri dari komponen utama yaitu asam ribonukleat (RNA), protein, dan lipid. Sel yang terinfeksi virus memperbanyak komponen ini kemudian secara spontan berkumpul sendiri untuk membentuk virus. Sebetulnya tidak ada ikatan kovalen yang kuat yang menyatukan unit-unit ini, yang berarti kita tidak perlu bahan kimia keras untuk memisahkan unit-unit tersebut. Ketika sel yang terinfeksi mati, semua virus baru ini lolos dan terus menginfeksi sel lain.

Beberapa bakteri dan virus memiliki membran lipid seperti misel berlapis ganda dengan dua pita ekor hidrofobik (zat yang sulit bercampur dengan air) yang diapit cincin kepala hidrofilik (mudah bercampur dengan air). Membran ini dipenuhi dengan protein penting yang memungkinkan virus menginfeksi sel yang membuat bakteri tetap hidup. Patogen yang terbungkus membran lipid antara lain Coronavirus, HIV, virus penyebab hepatitis B dan C, herpes, Ebola, Zika, demam berdarah, dan berbagai bakteri yang menyerang usus dan saluran pernapasan.

Saat kita mencuci tangan dengan sabun dan air, mikroorganisme yang menempel di kulit kita terselimuti oleh molekul sabun. Ekor hidrofobik molekul sabun menghindari air. Dalam prosesnya, mereka menyelipkan diri ke dalam selubung lipid mikroba dan virus tertentu, untuk membongkarnya. Sabun menjebak kotoran dan fragmen virus yang telah hancur dalam gelembung kecil yang disebut misel. Saat kita membilas tangan, semua mikroorganisme yang telah rusak, terperangkap, dan terbunuh oleh molekul sabun akan terbawa arus.

 

Mana yang lebih efektif, sabun atau hand sanitizer?

 

Hand sanitizer tidak membersihkan secara menyeluruh

Penggunaannya mungkin lebih mudah, namun hand sanitizer tidak bisa sepenuhnya membunuh virus bahkan dengan kandungan alkohol yang cukup. Studi menunjukkan bahwa hand sanitizer  bekerja dengan baik dalam pengaturan klinis, di mana tangan tidak terlalu kotor atau berminyak. Namun dalam lingkungan kerja sehari-hari, hand sanitizer tidak dapat membersihkan secara menyeluruh. Selain itu, hand sanitizer tidak efektif jika digunakan terlalu sedikit atau dilap sebelum benar-benar kering. Hand sanitizer juga mungkin tidak dapat menghilangkan atau menonaktifkan bahan kimia berbahaya yang mungkin bersentuhan dengan kita. Dalam sebuah penelitian, orang-orang yang melaporkan penggunaan hand sanitizer untuk membersihkan tangan mereka ditemukan memiliki tingkat pestisida yang tinggi di dalam tubuh mereka.

Jika kita menyentuh bahan kimia berbahaya, para ahli menganjurkan untuk mencuci dengan hati-hati dengan sabun dan air atau seperti yang diarahkan oleh
Pusat Kendali Racun (Poison Control Center).

Resistensi bakteri

Banyak penelitian menunjukkan bahwa hand sanitizer dengan konsentrasi alkohol antara 60% dan 95% lebih baik dalam membunuh kuman dibandingkan produk dengan konsentrasi lebih rendah atau atau tanpa alkohol. Konsentrasi alkohol yang lebih rendah hanya mengurangi pertumbuhan kuman daripada membunuh mereka secara langsung. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah beberapa bakteri mulai menunjukkan resistensi terhadap jumlah etil alkohol yang rendah.

 


Alkohol berbahaya untuk anak-anak

Meskipun hand sanitizer berbahan dasar alkohol aman jika digunakan sesuai petunjuk, namun dapat menyebabkan keracunan alkohol jika tertelan, terutama jika seseorang menelan lebih dari beberapa suap. Pusat Kendali Racun AS menerima hampir 85.000 panggilan tentang paparan hand sanitizer pada anak-anak dari 2011 hingga 2015. Maka dari itu, hand sanitizer harus disimpan jauh dari jangkauan anak kecil, dan hanya digunakan di bawah pengawasan orang dewasa.

Jadi, sudah paham kan peran sabun dan hand sanitizer untuk membersihkan tangan? Sekian penjelasan dari aku, semoga paham yaa. Bisa dibaca artikel berikut untuk informasi lebih lengkap. Semoga pandemi segera berakhir dan tetap sehat selalu untuk kita semua!

 

Referensi :

How Washing Hands with Soap Destroys The Coronavirus

Soap vs Hand Sanitizer

The Science of Soap – Here’s How It Kills The Coronavirus

 

 

 

 

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Little Beautiful City : Antusias Membangun Teknologi disertai Kecemasan Bumi

            Populasi manusia yang semakin meluap membuat kebutuhan hunian juga meningkat. Selain itu, sampah yang dihasilkan pun semakin menggunung. Tidak semua orang menyadari bahwa pengelolaan lingkungan adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang bersahabat dengan alam. Teman-teman ingat tidak, kapan pertama kali kalian sadar bahwa membuang sampah di sungai adalah hal yang buruk?           Christian Darren Kusnadi, seorang penulis asal Tangerang berhasil menuliskan buku berjudul Our  Little  Beautiful City. Terinspirasi dari buku berjudul Silent Spring karya Rachel Carson, Darren mencoba menceritakan isu lingkungan dengan kisah yang mudah dipahami. “Target pembacanya memang untuk anak-anak dan remaja, harapannya cerita ini cukup memberi rangsangan kalangan muda bahwa masalah lingkungan itu nyata”,   ungkap Darren. Sesuai dengan target pembaca, tokoh dalam cerita ini merupakan sekumpu...

Apa yang Menyebabkan Spidol Bisa Permanen?

soniofficemate.com "Ayo siapa yang mau melanjutkan mengerjakan nomer 3 di papan tulis? Silakan nomer 1 boleh dihapus."  "Baik, Bu." "Hayoooo spidol permanennn hahahah ngga bisa dihapuuss..." Panik. Pelajaran jadi molor gara-gara waktu dipake buat menghapus spidol permanen dengan spidol nonpermanen. Abis itu spidol nonpermanen jadi macet, warnanya tipis, ngga bisa dilihat dari barisan siswa di belakang. Hadeuh. Apa sih yang bikin spidol bisa permanen sampai jam pelajaran jadi berkurang, walaupun beberapa siswa merasa senang? Secara fisik, tampilan spidol tampak sama baik permanen maupun nonpermanen. Tentu yang membuatnya berbeda adalah bahan kimia di dalam tinta spidol tersebut. Ada empat bahan penting dalam pembuatan tinta, yaitu air, pelarut, aditif, dan pengawet. Dalam tinta spidol permanen sendiri ada 3 bahan penting yaitu pewarna ( colorant ), pelarut ( solvent ), dan resin. Mari kita pelajari satu per satu ya tidak perlu berbarengan,...

Bias Efek Mozart

Musik klasik memiliki makna luas yang biasanya mengarah pada musik tradisional barat, seperti orkestra dan opera [1] . Pernahkah teman-teman mendengar pernyataan bahwa musik klasik membuat kita menjadi lebih pintar? Yap, fenomena tersebut dinamakan “efek Mozart”. Hingga saat ini, masih banyak di antara kita yang memercayai bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan seseorang. Bahkan aku sendiri sebagai penikmat musik klasik juga memercayainya, sampai suatu saat sebuah tweet mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Ngomong-ngomong, kenapa harus Mozart? Bukannya ada banyak komponis musik klasik yang populer juga, misalnya Beethoven, Bach, atau Chopin? Bisakah disebut “efek Beethoven”?   Wolfgang Amadeus Mozart